Rabu, 06 Mei 2009

ROMO TOMO DARI GANJURAN - SEBUAH KESAKSIAN


ROMO TOMO DARI GANJURAN – SEBUAH KESAKSIAN.

Pada waktu kami berkenalan dengan Romo Tomo (Romo Gregorius Utomo pr), kami berpikir ini hanyalah sekedar perkenalan dengan seorang Romo yang pernah melintas sekejap dalam kehidupanku. Aku pikir tidak akan ketemu lagi, namun ternyata pertemuan ini disusul dengan pertemuan2 lainnya yang tidak pernah terencana sebelumnya yang membuat ceritaku ini jadi panjang dan menarik.



Kejadiannya dimulai di tahun 1982, tatkala aku ditugaskan untuk belajar di Kantor Pusat IBM di Tarrytown, salah satu suburb di New York State, yang terletak kira2 1 jam sebelah utara Kota New York City. Tugas ini merupakan on the job training dari pimpinan lokal Kantor IBM di Asia Tenggara selama satu tahun penuh (dari 1 Januari s/d tanggal 31 Desember), untuk belajar mengenal kebudayaan perusahaan IBM yang berkantor pusat di Amerika ini.

Karena tugasnya selama 1 tahun penuh, maka kami diijinkan untuk membawa serta keluarga dan tinggal menetap di AS dengan disewakan rumah dan mobil yang cukup representatip (pada waktu itu IBM masih merupakan perusahaan terbesar ke -5 didunia). Awal Desember 1981, aku dikirim bersama Jenny, untuk proses yang namanya “House Hunting”. yaitu mencari Rumah sewaan yang sesuai dengan selera kami dan sesuai dengan budget yang ditetapkan oleh Kantor. Selama 2 minggu kami berkeliling didampingi oleh beberapa Realtor yang ditugaskan oleh kantor, namun entah kenapa sampai kami putuskan untuk pulang, belum ada rumah yang 100% sesuai dengan keinginan kami. Ada saja alasannya, sampai2 kami putuskan untuk pulang dahulu dan nanti awal Januari 1982, kita akan coba cari lagi. Namun pada saat hari terakhir sebelum kami pulang, salah seorang sekretaris Kantor Pusat IBM secara sambil lalu mengatakan, Eh, ada rumah yang ditinggali oleh pasangan pegawai IBM Canada, tapi baru akan kosong awal Februari 1982. Dengan rasa nggak terlalu yakin, kami putuskan untuk melihat saja Rumah tersebut sambil mengisi waktu luang kita waktu itu.

Rumah tersebut terletak dijalan Sunset Drive Nomor 75, di kota Ossining, yang berjarak kira2 hanya 15 menit dari Kantor. Ternyata setelah melihat Rumah tersebut, walaupun Rumah ini cukup tua (dibangun di tahun 1929), namun terlihat cukup nyaman, asri dan representatip. Tamannya luas sekali, dan sewa rumahnya sudah termasuk pemeliharaan Taman, sehingga aku tidak perlu bersusah payah memotong rumput dan memelihara



taman yang luas ini. Kamarnya ada 3 dengan Master Bedroom yang cukup luas dilengkapi dengan Closet (tempat menyimpan pakaian – khas design bangunan di AS waktu itu) yang luas sekali. Ada 2 kamar anak yang rencananya bisa dipakai oleh Andre bersama Oma Pati, Maminya Jenny (yang rencananya akan ikut dengan kita selama 6 bulan) dan satunya untuk Suzanne bersama Cisca. Semua kamar terletak di Lantai 2. Sedangkan dilantai 1, disamping Living Room yang cukup luas, ada Dining Room dan Full Kitchen serta ada 1 kamar lagi yang bisa kami pakai sebagai Study Room untuk anak2. Masih ada lagi Basement yang berisi Garasi mobil, tempat cuci pakaian (Washer/Dryer) serta 1 Ruang Rekreasi yang luas sekali. Wah, pokoknya Rumah tersebut cocok sekali dengan kebutuhan keluarga kita, sehingga hanya pada hari terakhir inilah kita putuskan, jadi melanjutkan sewa rumah ini, walaupun kami hanya bisa memasukinya di awal bulan Februari 1982. Langsung kami foto (waktu itu belum ada foto Digital) agar bisa kami cetak dan tunjukkan kepada anak2 dan saudara2 kami di Indonesia nanti.

Kami sekeluarga berangkat meninggalkan Indonesia tanggal 26 Desember 1981 dan setelah transit di Singapore dan Rotterdam selama beberapa hari (menengok adik kami, Gwan Liong yang baru pindah dari Eindhoven ke Rotterdam), sampailah kami ber enam di Lapangan Udara JFK New York pada tanggal 2 Januari 1982. Bayangkan betapa dinginnya waktu itu, karena persis di musim Dingin kami sampai New York, namun anak2 senang sekali, karena belum pernah mengalami musim salju. Waktu itu, Andre baru kelas 6 – umur 12 tahun, Suzanne umur 8 tahun – kelas 2 SD sedangkan Cisca masih di TK berumur 6 tahun.

Karena Rumahnya baru bisa kami masuki di awal Februari, maka untuk sementara Kantor menempatkan kami di Hilton Hotel di Kota Tarrytown (tidak sebesar Hotel Hilton yang di Jakarta) sebagai tempat tinggal kami selama belum punya “Rumah” permanen. Kami mendapat 2 kamar dengan connecting door dan selama kami tinggal di Hotel, maka Kantor akan membayar “all expenses”, yaitu boleh makan dimana saja dan diganti oleh Kantor. Wah, kelihatannya menyenangkan sekali, kita boleh makan Steak, Chinese Food atau lain2 sesuka kita. Ternyata kalau hanya beberapa hari saja ya enak sekali, tapi kalau selama 1 bulan, ya lama2 pilih mau makan dimana saja makin sulit, apalagi cari menu masakan yang menarik, Benar2 kami merindukan “Home Cooking” – Sayur Asam, Rawon, Ayam Goreng dll. Dan didaerah sekitar Tarrytown ini, tidak ada Rumah Makan Indonesia.

Di waktu2 yang luang, kami menyempatkan untuk melihat “Rumah kami” dari luar, sambil membayangkan wah betapa nikmatnya nanti kalau sudah pindah kesitu. Sebelum kami berangkat, kami sudah membeli beberapa perabotan dari rotan, yang boleh kami bawa atas beaya kantor, yang akan kami pakai selama disana supaya tetap betah dengan menggunakan perabotan buatan Indonesia dan diwaktu akhir masa tugas nanti, masih bisa punya nilai, siapa tahu bisa terjual untuk ditukarkan dengan perabotan “ made in USA”. Kami sudah membayangkan dimana akan kami letakkan meja makan, meja belajar, sofa, kursi gantung, kursi malas dan lain2nya, namun kami harus bersabar karena makan waktu beberapa minggu agar perabotan kami bisa sampai sejak dikapalkan dari Jakarta ke rumah kami ini, lagian juga rumahnya tokh masih disewa orang lain.

Anak2pun kami daftarkan ke Sekolah Katolik di kota Ossining ini, yaitu St Augustine School, yang menyediakan School Bus untuk antar jemput mereka ke dan dari Sekolah (free). Karena sekolah swasta, maka harus bayar, tapi oleh kantor beaya sekolah ini ditanggung, jadi sama saja dengan bersekolah di Public School yang juga free. Namun agar anak2 tetap mengenal Agama Katolik, kami tempatkan mereka di Catholic School.


Penjara Sing Sing Kursi Listrik

Setelah beberapa waktu kami tinggal, ternyata kami baru tahu bahwa Kota Ossining ini dulunya bernama Sing Sing, yang terkenal karena ada Penjara Sing Sing yang sempat dihuni oleh Tokoh2 Penjahat besar seperti Mafia dll. Banyak sekali penjahat2 yang menjalani hukuman mati di kursi listrik. Kalau tidak salah, penjara ini sampai sekarang masih aktip dipakai. Karena penduduk baik2 tidak mau di hubung2kan dengan penjara Sing Sing ini, maka mereka usulkan, kotanya diganti namanya menjadi Ossining. Pada waktu kami bertemu dengan penduduk setempat Amerika dan ditanya dimana kami tinggal, dan waktu kami menyebutkan Ossining, dengan wajah sedikit mengejek mereka selalu berkomentar, “Oh Sing Sing maksud anda”. Ya menyakitkan tapi karena kami hanya tinggal sementara, hanya setahun saja, ya kami tidak mengambil komentar ini dihati kami. Kalau sebelumnya kami tahu bahwa Ossining itu adalah Sing Sing, ya barangkali kami tidak jadi pindah kesitu. Tapi rupanya Tuhan sudah menakdirkan kita untuk tinggal disitu dan kita tentunya tidak pernah menyesal dengan takdir ini, karena pengalaman setahun hidup di Sing Sing ini ternyata membuat kita punya pengalaman lain yang lebih menarik dan menyenangkan dalam kehidupan kami.

Bulan Februari 1982, Rumah yang kami akan sewa, sudah kosong dan dengan senang hati kami semua pindah dari Hotel Hilton Tarrytown ke Rumah kami di Ossining ini, walaupun saat itu Rumah tersebut masih kosong plong.
Sebelumnya, ada beberapa perabotan seperti ranjang/kasur dan lain2 yang kami beli dari bekas pegawai IBM yang sudah selesai dengan tugasnya dan harus pulang kembali ke Negara asalnya. Dengan bermodalkan beberapa perabotan sederhana ini, kami nekat untuk pindah, maklum sudah bosan rasanya tinggal di Hotel selama sebulan lebih.
Mulailah kami merasakan suasana “Home” kembali. Jenny dan Maminya mulai masak masakan Indonesia, malahan tanpa perabotan kami pernah mengundang beberapa kenalan kantor untuk pesta makan “Satai Ayam” sambil duduk bersila beralaskan karpet ruang tamu. Dan mereka (bukan orang Indonesia) merasa senang sekali mencicipi tusukan daging ayam dengan bumbu kacang dan kecap ini.

Tanggal 10 Februari 1982, bertepatan dengan Ulang Tahun Andre, datanglah container yang membawa barang2 kami dari Indonesia, sehingga setelah barang2 tersebut di “unpack”, kita mulai dapat hidup layak dirumah kita di Ossining ini. Suasana rumah kembali ceria dan kehidupan mulai berjalan normal sambil kami mulai menyesuaikan dengan kebudayaan berumah tangga di A.S. seperti cuci piring, buang sampah, bersih2 rumah sendiri tanpa pembantu. Anak2 mulai dibiasakan untuk belajar membantu menyiapkan meja makan, mengambil piring2 kotor selesai makan, mengeluarkan sampah dari rumah ke halaman depan pada saat Hari Pengambilan Sampah dan tugas2 lain dalam menjalankan Rumah Tangga secara berdikari.

Karena bahasa Inggris mereka selama mereka bersekolah di Indonesia dapat dikatakan Nol, maka merekapun harus menyesuaikan diri dengan belajar bahasa Inggris “online” artinya sambil ngomong sambil belajar. Namun dasar anak2, ternyata mereka cepat sekali dapat menyesuaikan diri dengan bahasa baru ini. Terutama sekali si bungsu Cisca, entah dari mana, tapi suatu saat aku telpon kerumah dari kantor dan ada seorang anak dengan aksen 100% bule Amerika menjawab telponnya, sehingga aku jadi kaget dan berpikir pasti aku salah sambung. Dengan gagap aku tanyakan apakah ini rumah Jenny/Thomas Subijanto dan dengan sigap aku mendengar jawaban :”It’s me Daddy, this is Cisca”. Masya Allah, aku pikir sudah ngomong dengan anak bule, nggak tahunya dengan anak sendiri, Betapa cepatnya dia bisa menguasai bahasa asing ini hanya dengan bergaul dan mendengarkan di sekolah saja. Memang selama ini, Jenny mengatakan pada anak2, mumpung kita hidup di Amerika, kita harus pakai kesempatan ini untuk belajar Bahasa Inggris, jadi dirumah harus selalu menggunakan Bahasa Inggris, walaupun Oma masih merasa malu untuk berbicara dalam bahasa asing ini. Dan siapa yang menggunakan bahasa Indonesia, maka akan didenda 5 sen dengan memasukkan coin ke botol celengan.

Dari sekolah mereka, kami diperkenalkan dengan seorang Suster yang bersedia memberikan les tambahan bahasa Inggris beberapa jam dalam seminggu dan Suster ini tinggalnya tidak jauh dari rumah kami. Namanya Sister Mary Elizabeth datang dari Ordo Maryknoll Sisters. Baru pertama kali ini kami mendengar tentang Ordo Maryknoll ini, dan bukan hanya Suster tapi juga ada Broeder dan Frater/Romo, hanya kebanyakan mereka bertugas di China, Hong Kong dan Philipina. Ada susteran Maryknoll di Indonesia yang waktu itu ada di Bandung (sekarang sudah tutup) dan di Flores, namun kurang dikenal, tidak seperti Ordo Ursulin yang terkenal sekali.

Dari Sister Mary Elizabeth inilah kami mulai berkenalan dengan organisasi Maryknoll ini, yang rupanya pusat biaranya bertetanggaan dengan rumah kami, Karena rumah2 di Amerika, terutama yang di suburb, tidak dibatasi dengan pagar, maka sering kali kami diajak mengunjungi pusat rumah biara Maryknoll ini yang besar sekali. Sampai2 mereka punya Kantor Pos dengan Kode Pos (ZIP Code) tersendiri, berbeda dengan ZIP code dirumahku. Seringkali di sore hari atau waktu week end, dengan enaknya kita melewati belakang rumah kami untuk jalan2 di halaman biara Maryknoll yang luas ini. Malahan dengan undangan dari penghuni biara, kami dapat diundang untuk makan bersama mereka ala makanan asli Amerika.



Maryknoll merupakan salah satu organisasi sosial yang cukup besar dan bonafide di Amerika Serikat. Banyak sponsor2nya yang secara tetap menyumbangkan uang ke organisasi ini, karena sumbangan ke organisasi sosial adalah bebas pajak malahan sering dipakai untuk mengurangi beban pajak penghasilan mereka. Karena itulah Maryknoll bisa melakukan tugas2 Misionarisnya keluar negeri dan sering mensponsori mereka2 dari Negara ketiga untuk belajar di Amerika Serikat.

Kami juga baru tahu, bahwa di biara Maryknoll ini juga dipakai sebagai pusat pendidikan Romo, Suster dan Awam dari Negara2 lain, termasuk Indonesia yang belajar mendalami pengetahuan tentang Kerasulan/Missionaris Agama Katolik. Mereka mendapat beasiswa untuk tinggal dan belajar di biara Maryknoll ini selama beberapa bulan sambil mendalami juga berbahasa Inggris. Dan tentunya karena kami adalah satu2nya keluarga Indonesia yang tinggal dekat dengan Maryknoll, secara otomatis rumah kami sering menjadi persinggahan para mahasiswa/mahasiswi Indonesia yaitu para Romo, Suster dan Awam Katolik ini. Kalau mereka kangen masakan Indonesia, mereka sering datang mencicipi Sayur Asem, Satai Ayam dll masakan Oma dan Jenny. Malahan ada beberapa Romo yang tujuannya berhemat, minta gunting rambut pada Jenny, karena beaya gunting rambut di Amerika cukup mahal (waktu itu $10.00). Jadilah kami mempunyai hubungan yang akrab dengan mereka, dan kadang2 kami juga memfaatkan mereka untuk berdoa dan mempersembahkan Misa Kudus dirumah, sehingga kita nggak perlu repot2 pergi ke Gereja lagi.



Salah satu siswa yang cukup mengesankan bagi keluarga kita adalah Romo Lugano pr, yang ternyata adalah orang kelahiran/asli Italia yang bertugas di Pantai Selatan Jawa Timur (Pacitan) khusus menangani para Nelayan. Dia meninggalkan tanah airnya untuk merasul dan mengkhususkan diri untuk membantu para Nelayan di kota terpencil di Indonesia, mirip2 dengan tugas Rasul Petrus yang akhli dalam perikanan dan bertugas menjaring para pengikutnya. (Sebagai catatan, Romo Lugano sudah berpulang kembali ke pangkuan Tuhan di tahun 2006 yang lalu). Dari Romo Lugano inilah, dia berceritera bahwa di Indonesia ada superiornya, yang juga suka membantu para nelayan dan petani kecil yaitu namanya Romo Utomo atau lebih dikenal dengan nama Romo Tomo. Romo Tomo inilah yang mensponsori Romo Lugano belajar di Maryknoll dan beliau juga sering mondar mandir ke Maryknoll, karena beliaulah yang bertugas untuk memilih siapa2 saja yang perlu ditugaskan belajar di Maryknoll. Nanti kalau beliau mengunjungi kami, akan kami bawa kerumah, janjinya.

Entah kapan, tanggalnya aku nggak ingat lagi, para siswa Maryknoll ini berbondong datang kerumah kami dan sebagai mana biasanya mereka makan malam dirumah kami. Malam itu mereka membawa tamu istimewa yaitu Romo Tomo yang merupakan atasan yang mengutus para siswa tersebut. Perawakannya sih biasa saja, namun warna kulitnya terlihat kuning langsat dan profil mukanya agak sedikit ke barat2an. Asalnya dari Jogya tapi sekarang bertugas di Jakarta. Pembicaraan ngalor ngidul macam2. ya biasalah kalau ketemu dengan tamu2 dari Indonesia ya suka ber gossip ria. Yang menarik dan selalu kami ingat, pada waktu akan pamitan pulang Romo Tomo minta secangkir teh Indonesia untuk dibawa pulang. Untuk apa Romo, tanya kami. Untuk nggombang mata, katanya kalau sebelum tidur mata kita di gombang (apa ya bahasa Indonesianya yang benar?), maka mata kita akan jadi “awet muda”, anti katarak.

Beberapa siswa selesai dengan tugas belajarnya dan mereka digantikan oleh rombongan2 lainnya. Dalam beberapa kali Misa Perpisahan yang dilakukan oleh para Romo yang akan pulang, kami sering diundang dan selalu coba memakai Pakaian Asli Indonesia (batik dan kebaya) yang sangat dikagumi oleh para tamu lainnya. Kadang2 malah Suzanne disuruh menari Tari Bali yang pernah dipelajarinya waktu dia masih di Indonesia, hanya saja tariannya ya asalan saja, bukan tarian yang benar hanya musik dan pakaiannya memang dari Bali yang sengaja kami bawa ke Amerika. Semua tamu ter kagum2 mendengar dan melihat Tarian Indonesia ini, padahal gerakannya bukan yang benar 100%. Tapi tokh nggak ada yang tahu kecuali kita2 sendiri.

Waktu terus berlangsung dengan cepatnya, dan akhir 1982 tugas belajar kami selesai dan kami harus kembali “bekerja” lagi di Indonesia. Dengan berat hati kami terpaksa mempersiapkan barang2 yang sempat kami kumpulkan selama kami tinggal setahun di negeri Paman Sam ini untuk dikirim pulang ke Indonesia dan juga membawa pulang pengalaman2 kami yang tak terlupakan sepanjang hidup kami.
Hubungan kami dengan Romo Tomo, organisasi Maryknoll serta bekas2 para siswa dari Indonesia di Maryknoll juga terputus dan terhenti dan aku balik lagi ke kehidupan normalku, kembali dengan kesibukan2 kantor dan kemacetan2 serta hiruk pikuk kota Jakarta lagi.

Aku pikir tidak ada kelanjutannya lagi dengan Romo Tomo, end of story, namun Tuhan rupanya merencanakan lain.

Pada waktu aku mulai bekerja di IBM Indonesia di Jakarta di tahun 1970, aku sempat indekos dirumah teman, kemudian mulai kontrak satu paviliun kecil di Tebet Timur Raya, pada waktu keluargaku pindah dari Bandung ke Jakarta di bulan September 1970. Didepan rumah kontrakan kami ini ada jalur hijau, yang dalam rencana tata ruang DKI termasuk tempat yang tidak boleh dibangun rumah, melainkan hanya boleh ditanami dengan tanaman hijau saja. Namun karena kurangnya lokasi perumahan di Ibukota ini, banyak yang secara tidak resmi, setengah resmi ataupun resmi, mendirikan bangunan dan bertempat tinggal di jalur hijau ini. Pemerintah Daerah sudah beberapa kali melakukan usaha me relokasi mereka, namun hasilnya dapat dikatakan nihil.

Sekitar tahun 1974, Pemerintah DKI mengeluarkan larangan keras, bahwa mereka yang sudah bertempat tinggal di Jalur Hijau Tebet ini harus segera keluar. Sebagai gantinya mereka ditawarkan membeli Kavling2 DKI dengan harga yang cukup murah. Ada yang mendapat bagian di Pondok Bambu, ada pula untuk para anggota ABRI/Kepolisian atau orang2 tertentu, ditawari Kavling DKI di Gudang Peluru, masih di Kecamatan Tebet. Dan karena kita tinggal di Tebet didepan jalur hijau ini, maka kami mendengar ada kesempatan untuk memberikan “ganti rugi” bagi mereka2 yang mempunyai jatah namun tidak bersedia pindah ke Kavling DKI ini. Karena letak Gudang Peluru ini tidak terlalu jauh dengan kawasan Tebet yang kami tinggali, maka kami merasa lebih senang memilih kompleks Gudang Peluru ini.

Kawasan baru Gudang Peluru ini, memang sejak saat jaman Belanda dahulu, dipakai sebagai Gudang Mesiu/Peluru (bahasa Betawinya Gudang Pelor). Namun karena lokasinya yang dekat dengan pemukiman rakyat maka di tahun 70an Pemerintah DKI melakukan relokasi dari Tebet ke Cilandak dengan melakukan “ruislag”. Jadilah kompleks Gudang Peluru ini menjadi kompleks pemukiman yang dibagi dalam Kavling2 dan pertama kali dijatahkan untuk beberapa pejabat DKI sendiri. Lalu kemudian masuk juga pindahan dari mereka2 yang memperoleh jatah dari Relokasi Jalur Hijau Tebet.



Singkat kata, diawal tahun 1976, kami sekeluarga mulai pindah ke Kompleks Gudang Peluru ini, yang sampai hari ini, sudah lebih dari 33 tahun, masih tetap menjadi tempat tinggal kami beserta segenap anak/menantu dan cucu. Tidak ada tempat yang lebih nyaman dan asri daripada Kompleks Gudang Peluru ini, walaupun namanya juga kurang enak didengar (masih ingat ceritaku tentang tempat tinggal kami di lokasi Penjara Sing Sing? Rupanya kami memang ditakdirkan untuk tinggal didaerah yang namanya kurang enak reputasinya).

Sudah menjadi kebiasaan kami berdua, kalau lagi tidak malas, di pagi hari kami berjalan santai keliling kompleks ini. Tidak banyak kendaraan yang lewat, dan banyak tetangga yang kami dapat jumpai, sambil saling memberikan tegur sapa. Kebiasaan rutin ini sudah kami lakukan sejak ber tahun2 lalu, dan kami selalu mengambil route yang sama untuk mengelilingi kompleks ini. Waktu kami masih muda, kami sanggup untuk berjalan cepat memutari kompleks sebanyak 2 kali, namun setelah bertambah usia, kebiasaan kami turun menjadi hanya satu putaran, malahan kalau lagi “malas” kami coba cari2 alasan untuk hanya berjalan setengah putaran saja. Mau hujan lah, perut sakit lah, pokoknya ada saja alasan untuk mempersingkat waktu olah raga ringan ini.

Suatu hari, diakhir bulan Mei tahun lalu (2008), karena alasan untuk melihat suatu Rumah yang akan dijual, pada waktu jalan pagi ini, kami putuskan untuk melewati suatu jalan yang sangat jarang sekali kami lewati dalam melakukan kebiasaan olahraga pagi ini. Sambil melihat rumah2 dikiri kanan jalan, tiba2 kami bertemu dengan seorang wanita/ibu paruh baya yang baru turun dari Mobilnya. Tiba2 Ibu tersebut melihat kami dan langsung berhenti, sapanya :”Pak Thomas, masih ingat saya?”. Wah, kagetnya bukan main. Siapa ya? Maklum kalau ada wanita yang menegur, apalagi sedang jalan disebelah isteri, membuat hati rada deg2an, apa nggak salah tegur nih? Tapi kok tahu namaku??
Tentu saja aku tidak langsung mengatakan tidak, walaupun aku sempat tertegun dan coba mengingat siapa ya? Sambil berhenti sebentar sambil mengatakan “….eehhh….”,otakku mulai diperas untuk merekoleksi kembali, dimana aku pernah bertemu dengan wanita ini. Untung Ibu tersebut langsung berkomentar : “Saya Yuliani, yang jaman dulu pernah bertemu di Maryknoll”.

Legalah aku, karena dengan serta merta otakku jadi encer kembali dan mengenang masa lalu waktu kita masih tinggal di Ossining. Itu kan sudah 26 tahun yang lalu? Ingatan akan pertemuan dengan para Misionaris muda, para Romo, Suster dan Awam Katolik mulai mengalir kembali dan nama Yulianipun mulai muncul dari benakku. Oh, kamu toh, kamu tinggal disini?. Tidak, tapi saya akan menemui Romo Tomo.
Dengan serta merta, ingatan masa puluhan tahun lalu, mulai terkuak kembali, Oh, Romo Tomo yang pernah makan malam dirumah kita dan minta Teh untuk Nggombang mata??

Kalau saja pagi itu aku “malas” berolah raga jalan kaki, kalau saja pagi itu aku mengikuti route perjalanan yang normal yang biasa kita lewati, kalau saja pagi itu kita nggak ada niatan untuk menengok rumah yang akan dijual, kalau saja aku terlambat atau kecepatan 5 menit saja, barangkali pertemuan dengan Juliani ini tidak akan terjadi dan tulisan ini hanya akan berhenti sampai disini saja.
Mengapa pertemuan ini bisa terjadi, mengapa pertemuan yang pernah terjadi 26 tahun yang lalu ini dapat terjadi lagi?? Hanya suatu kebetulankah?? Pertanyaan2 yang aku tidak tahu jawabannya, melainkan aku hanya bisa mengatakan, inilah yang dinamakan dengan Takdir. Ada sesuatu kekuatan dan kekuasaan diluar kita yang telah mengatur bahwa kejadian inilah yang akan terjadi. Aneh tapi nyata. Akupun termenung memikirkan, mengapa semua ini telah terjadi??

Pertemuan rekoleksi dengan Romo Tomopun terjadi sesudah pertemuanku dengan Yuliani. Kami sowan dan mengingatkan kembali akan pertemuan kita ditahun 1982 yang lalu di Ossining dan Maryknoll. Aku berpikir dalam hati, aku tidak pernah berencana untuk ketemu kembali dengan Romo Tomo, tapi kejadian2 sebelum peristiwa ini telah menuntun aku untuk masuk dalam pertemuan ini. Ada yang telah mengatur bahwa hari ini aku akan bertemu kembali dengan Romo Tomo. Untuk apa? Aku masih belum tahu.

Dari perjumpaan kembali dengan Romo Tomo ini, aku baru tahu bahwa beliau ini berada di Gereja Ganjuran Jogyakarta, bahwa Romo Tomo masih tetap memimpin para Petani dan Nelayan Kecil untuk mendalami Pertanian Organik dan juga Romo Tomo masih menyimpan kemampuan tersembunyi untuk menyembuhkan orang banyak serta men deteksi gangguan2 yang terjadi karena pengaruh aliran air didalam bumi serta kemampuan untuk mencari sumber air dibawah tanah.

Sebelum aku lanjutkan cerita ini, aku tampilkan sedikit ulasan tentang Gereja Ganjuran ini.
Gereja Ganjuran, Bertemu Yesus dalam Wajah Jawa
Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, demikian nama lengkapnya, bisa dijangkau dengan mengendarai kendaraan bermotor sejauh kurang lebih 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Pemandangan sawah yang hijau dan pohon glodogan serupa cemara akan menyambut anda begitu memasuki Desa Ganjuran, tempat gereja ini berdiri. Mengunjungi gereja ini, anda akan mengetahui tentang sejarah gereja dan inkulturasi Katolik dengan budaya Jawa, dan dapat digunakan untuk mendapatkan ketenangan hati.



Kompleks gereja Ganjuran mulai dibangun pada tahun 1924 atas prakarsa dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Panti Rapih.



Pembangunan gereja yang dirancang oleh arsitek Belanda J Yh van Oyen ini adalah salah satu bentuk semangat sosial gereja (Rerum Navarum) yang dimiliki Smutzer bersaudara, yaitu semangat mencintai sesama, khususnya kesejahteraan masyarakat setempat yang kebanyakan menjadi karyawan di Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918 - 1930.

Dalam perkembangannya, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus pada tahun 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi pilihan lain tempat melaksanakan misa dan ziarah, selain di dalam gereja, yang menawarkan kedekatan dengan budaya Jawa.

Berjalan keliling gereja, anda akan menyadari bahwa bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara, sementara gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Nuansa Jawa juga terlihat pada altar, sancristi (tempat menyimpan peralatan misa), doopvont (wadah air untuk baptis) dan chatevummenen (tempat katekis). Patung Yesus dan Bunda Maria yang tengah menggendong putranya juga digambarkan tengah memakai pakaian Jawa. Demikian pula relief-relief pada tiap pemberhentian jalan salib, Yesus digambarkan memiliki rambut mirip seorang pendeta Hindu.

Anda yang ingin berziarah bisa menuju tempat pengambilan air suci yang berada di sebelah kiri candi. Setelah mengambil air suci, anda bisa duduk bersimpuh di depan candi dan memanjatkan doa permohonan. Prosesi ibadah diakhiri dengan masuk ke dalam candi dan memanjatkan doa di depan patung Kristus. Beberapa peziarah sering mengambil air suci dan memasukkannya dalam botol, kemudian membawa pulang air itu setelah didoakan.

Bila ingin mengikuti misa dalam bahasa Jawa, Romo dan para Petugas Altar menggunakan Pakaian Adat Jawa dan nyanyian lagu yang diiringi gamelan, datanglah setiap malam Jumat Pertama tiap bulan. Banyak adat2 kebiasaan Jawa yang masih tetap digunakan.

Romo Tomo adalah identik dengan Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran. Tiap kali aku bertemu orang dan berbicara tentang Romo Tomo, selalu dikomentari : Romo Tomo dari Ganjuran ya? Atau sebaliknya, tiap kali kita berbicara tentang Gereja Ganjuran, selalu dikatakan bahwa disitu ada Romo Tomo yang dapat menyembuhkan orang sakit.
Entah sejak kapan Romo Tomo aktip di Ganjuran, tapi menurut beliau, beliau lahir di RS Pabrik Gula Ganjuran karena Kakek dari Ibunya bekerja disitu dan pada waktu beliau lahir ( Februari 1929), Rumah tempat tinggal Ibunya belum ada Rumah Sakit Bersalin, sehingga Ibunya mengungsi ke Ganjuran.

Suatu kebiasaan unik yang Romo Tomo selalu lakukan adalah secara konsisten sekali beliau selalu hadir di Misa Kudus dan Adorasi di malam Jumat Pertama tiap bulan di Gereja Ganjuran. Jumat Pertama di ritual agama Katolik dikhususkan untuk menghormati Hati Kudus Tuhan Yesus. Pernah suatu kali, beliau karena harus melakukan sesuatu tugas di luar negeri, tidak sempat pulang di malam Jumat Pertama tersebut, dan keesokan harinya dia memperoleh laporan bahwa malam lalu di Ganjuran telah terjadi hujan lebat disertai dengan kilat sambar menyambar. Hanya sekali itu sajalah beliau sempat absen, setelah itu secara konsisten sekali beliau selalu hadir di Misa malam Jumat Pertama, sampai dengan hari ini.

Ceritanya yang lain, keluarga Ibunya berasal dari Desa Rejoso, dekat dengan Station SROWOT, Kabupaten Klaten. Sebagai adat jawa, hari weton (kelahiran) Ibunya dianggap sebagai hari penting untuk berkumpulnya keluarga. Ibu Romo Tomo dilahirkan pada Hari Rabu PON. Sebagaimana anda mungkin tahu, hari Jawa tiap Pekan (atau mingguannya) adalah Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon, dan siklus hari Jawa ini akan berulang tiap 35 hari Kalender Umum (yang kita kenal sehari hari). Pada waktu Ibu beliau masih hidup, tiap malam Rabu Pon ini, Romo Tomo akan mengadakan Misa Kudus dengan Liturgi Jawa (sama seperti yang terjadi di Ganjuran tiap malam Jumat Pertama) dengan mengundang para Keluarga dan Tetangga. Pada waktu Ibu beliau sudah berpulang, oleh sahabat2 dan tetangganya diusulkan agar kebiasaan Misa Rabu Pon ini dilanjutkan saja. Dan terjadilah Ritual rutin tiap 35 hari sekali yang juga secara konsisten dihadiri oleh Romo Tomo, bulan demi bulan, tidak pernah absen.



Penghormatan yang secara konsisten telah dilakukan beliau, yakni tiap malam Jumat Pertama, untuk menghormati Hati Kudus Tuhan Yesus di Gereja Ganjuran dan tiap malam Rabu Pon dirumah Ibu beliau di Rejoso, Klaten, membuat kita semua angkat topi merasa kagum akan kesetiaan beliau pada Yesus dan Ibunya (yang bisa juga melambangkan kecintaan pada Ibu Yesus – Maria). Perpaduan antara adat Jawa yang menghormati para Leluhur (terutama Ibu) dicampur dengan adat liturgi Katolik, merupakan sesuatu yang unik tidak ada duanya didunia ini.

Satu hal lagi yang selalu dilakukan oleh Romo Tomo adalah tiap pagi sepanjang tahun pada jam 07:00 wib, beliau selalu berdoa untuk orang lain yang minta didoakan, apapun maksudnya, apakah untuk kesembuhan penyakit, enteng jodoh, minta keturunan, lulus ujian, lancarnya bisnis, penagihan hutang, apapun yang diminta melalui beliau. Secara konsisten disebutkannya satu persatu, ada yang beliau sudah hafal ataupun dari catatan beliau. Menurut falsafah beliau, pada waktu kita berdoa, telapak tangan kanan kita buka untuk mohon berkat pada Tuhan dan telapak tangan kiri kita tutup untuk menyentuh dan menyalurkan berkah kepada siapaun yang ingin kita doakan. Satu buka dan satu ditutup, “Ying and Yang” kata falsafah Timur atau perpaduan positip negatip. Jangan dua2nya minta atau dua2nya memberi. Satu buka dan satu tutup, itulah selalu ajaran beliau. Doa pagi ini selalu dimintakannya untuk dikuti para pengikutnya yang terdapat di-mana2, ada yang di Jogya, Solo, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan juga di luar Jawa dan luar negeri seperti Singapore, USA, Negeri Belanda dll. Mereka mencocokkan waktunya dengan jam 07:00 wib sehingga dengan kekuatan massal, doa kita akan lebih tersampaikan.

Aku punya pengalaman pribadi yang tidak pernah terlupakan. Tiga tahun yang lalu, karena alasan medis, tulang lututku yang mulai aus dan terasa sakit, oleh dokter spesialis Tulang telah diganti dengan metal atau dinamakan TKR (Total Knee Replacement), Operasi ini merupakan pengalaman tersendiri yang terlalu panjang untuk diceritakan. Pada waktu perawatan Pasca operasinya ternyata ada komplikasi yang sering terjadi yaitu adanya pendarahan internal dan disertai dengan pembengkakan (inflamasi) sehingga menyebabkan lututku sakit sekali dan sulit untuk dipakai berjalan normal. Aku harus pergi ke spesialis tulang lagi untuk disedot dan dikeluarkan cairan darah dari lututku yang sakit. Menjengkelkan sekali. Hal ini terjadi beberapa kali, rupanya diduga karena aku tiap hari harus minum tablet Aspirin (pengencer darah) guna keperluan jantungku, yang menyebabkan pendarahan ini. Seperti buah simalakama, kalau Aspirin di stop ada masalah dengan sakit jantungku, kalau tetap minum Aspirin ada masalah pendarahan. Repot juga, sehingga akhirnya dicoba cara pengobatan terakhir dengan menggunakan Radio Isotop. Katanya pembengkakan lutut ini biasanya bisa teratasi dengan penggunaan teknologi Radio Isotop ini, kalau cara2 lainnya sudah dicoba tanpa hasil. Namun dengan cara inipun masih terjadi pembengkakan lagi, walaupun tidak sesering sebelumnya.

Suatu hari, tepatnya tanggal 3 Nopember 2008, terjadi pembengkakan lagi dan aku sudah daftar ke RS Mitra Kelapa Gading untuk berobat pada Dokter Tulang langgananku. Pagi itu mendadak dirumahku kedatangan seorang Tamu yang tidak diundang, yang ternyata adalah Romo Tomo, yang pada akhir bulan Mei lalu kutemui tinggal di Kompleks Gudang Peluru juga. “Eh, ada apa Romo, maaf saya sedang sakit lutut nih, jadi nggak kuat jalan”, sambutku menyilahkan Romo Tomo memasuki rumah kami. “Kalau begitu, marilah saya doakan agar sakitnya bisa hilang”, kata Romo Tomo sambil menyalami anggota keluargaku yang lain. Serta merta, Romo Tomo menyilahkan yang hadir disitu untuk ikut berdoa, sambil duduk, telapak tangan kanan dibuka dan telapak tangan kiri ditutup. Dengan serious sekali, Romo memimpin doa ini sambil mengatakan, Tunggu, sampai nanti ada “angin siwir siwir” akan datang berhembus, coba dirasakan. Kami semua dengan hati penuh harap mengharapkan kedatangan angin siwir2 ini, yang kemungkinan bisa menghilangkan rasa sakitku.




Sampai sekarang, aku nggak tahu, apa yang membawa Romo Tomo datang ke rumahku, karena aku belum pernah secara resmi mengundangnya hari itu, dan akupun bukan atau belum menjadi pengikut setia beliau. Baru sekali saja kita bertemu kembali 5 bulan sebelum ini (tanggal 30 Mei 2008), setelah pertemuan kita di Maryknoll tahun 82. Setelah ngobrol kanan kiri, akhirnya Romo pamitan sambil mengundang kami, kapan2 pergi ke Rejoso, karena kita juga punya minat atas Bangunan Arsitektur Jawa, seperti yang dipunyai oleh Keluarga Romo Tomo di Rejoso.

Tak lama setelah Romo pulang, benar2 aku merasakan keajaiban, lututku tidak terasa sakit lagi. Aku nggak percaya, kucoba menendang2 dengan lutut yang tadinya digoyangkan saja terasa sakit. Pembengkakan masih ada, namun tidak terasa sakit lagi. Aku coba untuk tidak percaya, namun kenyataannya sakitku hilang, sehingga kami putuskan untuk tidak jadi pergi ke dokter tulangku lagi. Sampai hari ini sudah 5 bulan lewat kunjungan Romo Tomo kerumah kami, dan ternyata sakitku tidak pernah kambuh lagi. Puji Tuhan, aku telah dikirimi seorang Malaikat Penolong. Moga2 sakit pembengkakan ini tidak sampai terjadi lagi. Percaya nggak percaya, tapi aku menceriterakan yang sesungguhnya. Apakah ini suatu kebetulan?? Mungkin saja, namun aku yakin Takdir lagi yang telah membawa Romo Tomo berkunjung kerumahku dan menbawa kesembuhan terhadap penyakitku.

Rentetan “kebetulan2” tersebut aku coba untuk di kait2kan sehingga menjadi suatu rentetan kejadian yang sudah menjadi nasib dan takdirku. Bahwa tadinya aku ditakdirkan tinggal di Ossining, yang bertetangga dengan Maryknoll, menyebabkan aku bisa berkenalan dengan Romo Tomo. Perkenalan ini terlanjutkan lagi, ketika secara “kebetulan” aku jalan kaki didepan Rumah penginapan Romo Tomo (Gudang Peluru Blok K/260) pada pagi hari tanggal 30 Mei 2008 lalu jam 06:30 wib. Karena pertemuan kembali ini, maka secara “kebetulan” Romo Tomo mengunjungi Rumah kami (Gudang Peluru F/152) dan “kebetulan” lututku lagi sakit dan setelah didoakan oleh Romo Tomo, maka “kebetulan” sakitku jadi hilang. Tidak habis pikir, rasanya tidak mungkin bahwa semua rentetan kejadian diatas merupakan suatu “kebetulan”, akan tetapi memang sudah diatur oleh sesuatu kekuatan lain, jadi sudah menjadi Takdir atau Suratan Tanganku.

Kalau saja aku tidak tinggal di Ossining, kalau saja aku tidak tinggal di Gudang Peluru dan kalau saja pagi itu aku tidak jalan, maka kesembuhanku tidak dapat terjadi. Kebetulan aku tinggal di Ossining (walaupun baru pada saat terakhir kita memutuskan untuk melihat Rumah yang kita tinggali), kebetulan aku tinggal di Gudang Peluru (karena ada jatah kavling untuk penghuni Jalur Hijau Tebet dimana kita kontrak rumah waktu itu) dan kebetulan aku jalan kaki didepan Rumah Romo Tomo (karena mau lihat Rumah yang akan dijual guna kepentingan kakak kami), Nah semua kebetulan2 tersebut telah menjadi suatu rentetan events yang tak terelakkan dan memberi kesembuhan kepada penyakitku.

Semakin kupikir, semakin aku tak mengerti mengapa semua ini harus terjadi?? Apa maksudnya dan bagaimana kelanjutannya??

Karena dilahirkan di kota Pati, isteriku Jenny menyukai produk2 kesenian Jawa, terutama dalam bentuk ukiran kayu jati. Beberapa kali kami ke kota Jepara untuk me lihat2 Rumah Jawa atau juga disebut Rumah Kudus, namun belum ada yang cocok. Pernah sekali, sudah hampir dibeli, namun pada saat terakhir isteri si calon penjual Rumah tersebut berkeberatan untuk menjualnya, sehingga jual beli jadi batal. Sampai pada suatu saat di awal tahun 2003, adikku Indro yang tinggal di Juwana tiba2 mengatakan :”Apakah kamu mau Rumah Joglo, ada Gereja Tayu yang mau dijual”. Tentunya kami ter heran2 apa hubungannya Gereja dengan Rumah Joglo. Setelah kami dengar ceritanya, ternyata ada Gereja di Tayu yang didirikan dengan memakai arsitektur Rumah Joglo ini. Karena ruangannya kesempitan dan Umat Gereja terus bertambah, maka Pastor Parokinya (yang kebetulan kurang menyukai Arsitektur Jawa ini) minta pada Dewan Paroki untuk mencari pembeli.


Singkat kata, di awal tahun 2003, terjadilah transaksi jual beli Rumah Joglo ini, yang untuk sementara kami titipkan pada seorang kenalan kami, Tukang Kayu dari Jepara tanpa kami tahu mau diapain Rumah ini, karena belum punya tanah untuk membangunnya.

Diawal tahun 2000, didaerah Cipaku, Bandung (tepatnya dibelakang Hotel Cipaku sekarang ini) ada suatu bukit yang telah di develop menjadi Kavling2 Villa oleh suatu perusahaan Developer dengan tenaga ahli dari Australia. Kompleks itu dinamakan Kompleks Dream Hill. Pada waktu pembukaan, banyak yang meminatinya sehingga kavling2 yang lokasi dan viewnya bagus, cepat terjual, apalagi pada masa itu, ekonomi Indonesia sedang booming.

Sayang sekali pada waktu tahun 2002, terjadi Krisis Moneter di tanah air, dimana Kurs USD mendadak naik tanpa kendali, menyebabkan banyak pelaku bisnis yang kelimpungan. Antara lain juga pengelola Kavling Dream Hill ini, yang berakhir dengan disitanya Real Estate ini oleh Bank. Kemudian Bank nya juga ikut collapse, sehingga muncul peran BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) yang kemudian melelang kavling2 di Dream Hill. Singkat cerita, ditahun 2004, aku berhasil membeli sebidang kavling di Komplek Dream Hill ini, tanpa tahu untuk apa. Hanya karena Kavling ini terletak diatas bukit dengan sudut pandang dapat melihat kota Bandung, hawanya juga masih segar dan yang penting, harganya masih terjangkau, maka kami jadi tertarik. Anak2 dan kami sudah hidup berdekatan di Gudang Peluru, sehingga waktu kita bisa membeli Tanah Kavling (dengan bangunan belum jadi diatasnya), kami sama sekali tidak pernah berpikir akan membangun disitu.




Setelah beberapa tahun lewat, entah motivasi apa yang membuat kita mengambil keputusan untuk meletakkan Rumah Joglo ini dan memindahkannya dari titipan ke teman kami di Jepara ke tanah kosong di Dream Hill ini. Motivasi ini demikian kuatnya, entah apa yang membuat kami jadi ngotot, namun kenyataanya bulan April 2008 kami membuat kontrak dengan teman kami, seorang Arsitek dan Kontraktor, untuk membangun rumah beserta Joglo dan Gebyok diatasnya.



Ini adalah hasil perpaduan antara Rumah Jawa eks Gereja Tayu dengan Tanah hasil Lelangan BPPN di Dream Hill, dua2nya adalah barang yang tak terpakai, namun kami termotivasi untuk memakainya. Entah mengapa kami jadi berniat keras untuk segera menyelesaikan pembangunan rumah ini.
Perabotannya pun kami cari sendiri di Jawa Tengah, dan percaya atau tidak, apa yang tadinya kami cari tidak pernah bias ketemu, namun dengan dibangunnya Rumah ini, kami mendapatkan perlengkapan/perabotan yang dari dulu kami angan2kan. Se-olah2 semua ini berjalan dengan mulus sekali dan sudah dipersiapkan untuk menempati Rumah ini.

Menurut rencana, Rumah tersebut sudah harus bisa diresmikan/diberkati pada bulan September, di hari Ulang Tahun Pernikahan kami, namun entah ada saja kesulitan yang timbul, rencana jadi mundur ke bulan November, hari jadinya Jenny. Gagal lagi, coba mundur ke Desember, Anniversarynya Andre dan Susanti, eh nggak bisa lagi. Kami sudah booking salah seorang Pastor kenalan kami dari Flores, namun karena harinya mundur terus, maka tidak jadi dilaksanakan.

Sampai saat kami bertemu dengan Romo Tomo di bulan November yang lalu, dimana dalam salah satu perbincangan kita bertukar pikiran bahwa di Rejoso, Romo Tomo juga punya Rumah Joglo yang dipakai untuk mengadakan Misa Kudus. Kok mirip2 dengan Rumah kita di Bandung ya. Dalam salah satu pembicaraan per telepon sesudahnya, ternyata Romo Tomo mengusulkan bahwa kamar2 perlu disurvey lebih dahulu untuk menghindarkan peletakan tempat tidur yang tidak sesuai dengan aliran air bawah tanah, yang bisa membuat pemakainya sakit2an. Beliau mengatakan bahwa tanggal 22 Maret memang beliau rencana untuk ke Bandung memberkati Rumah salah seorang kenalannya. Survey bisa dilakukan pada saat Romo ada di Bandung.

Tadinya kita berencana membuat Open House/Pemberkatan Rumah pada Hari Raya Paskah, 11 April sekalian merayakan Pesta Ulang Tahunku, namun karena Romo Tomo bisa ke Bandung sebelumnya, kami memutuskan untuk minta Romo Tomo memberkatinya pada tanggal 21 Maret. Dan memang itulah yang terjadi.





Setelah aku tuliskan rentetan cerita dan kejadian yang kualami sendiri, aku mulai coba merangkumkan rentetan2 peristiwa tersebut dari sesuatu yang “unrelated” – tidak ada hubungannya apa2 - menjadi sesuatu yang kenyataannya merupakan suatu rentetan kejadian yang sudah “direncanakan”. Aku sendiri tidak pernah punya rencana demikian, namun kenyataannya Suratan Takdirku membawa aku ke peristiwa tersebut.

Waktu bertugas di Amerika Serikat, aku tidak pernah punya rencana tinggal di Ossining, baru pada saat terakhir, aku diperkenalkan pada Rumah tersebut dan langsung kita sukai dan kita pilih. Coba saja kita tidak memilih Rumah tersebut, maka ceritanya akan jadi lain.

Karena kita tinggal di Ossining, maka tanpa direncanakan kita jadi berkenalan dengan Keluarga Maryknoll sampai akhirnya kami diperkenalkan pada Romo Tomo. Kalau saja kami tidak tinggal di Rumah kami di Ossining, maka perkenalan dengan Romo Tomo tidak akan pernah terjadi, dan cerita ini jadi lain lagi.

Kelihatannya tidak ada hubungan apa2, tapi tanpa rencana, karena kita kontrak rumah (pavilion) dikawasan Tebet waktu itu, maka kami diperkenalkan pada Kompleks Gudang Peluru, yang kemudian kami pilih jadi tempat tinggal kami. Tanpa rencana ternyata kami dibimbing untuk memutuskan membangun rumah dan tinggal di Gudang Peluru ini, sampai akhirnya juga ketiga anak2 kami memutuskan tinggal di kompleks yang sama. Hal ini tidak pernah terencana sebelumnya, namun dalam perjalanan hidupku, kami ternyata diberikan jalan untuk tinggal bersama di Kompleks Gudang Peluru ini. Tadinya anak2 ada yang punya rencana untuk pindah ke Manado, Pluit ataupun Bandung, namun Suratan Tangan atau Takdirku yang membawa kami semua menetap di Kompleks ini. Kalau saja aku tidak tinggal di Kompleks ini, maka pertemuanku kembali dengan Romo Tomo akan lain ceritanya.

Hanya karena aku kebetulan tinggal di Gudang Peluru dan kebetulan juga Romo Tomo tinggal di kompleks yang sama, melalui Sdri Yuliani, aku dipertemukan kembali dengan Romo Tomo secara “kebetulan”. Setelah 26 tahun tidak pernah saling memberi kabar, anehnya bisa bertemu kembali. Mengapa aku dipertemukan kembali dengan Romo Tomo?? Tadinya aku tidak pernah berpikir apa2, karena kupikir peristiwa2 tersebut hanya merupakan suatu kebetulan saja.
Namun setelah terjadi lagi pertemuan berikutnya yang tiba2 saja muncul waktu aku menderita sakit dan ternyata sakitku secara “kebetulan” disembuhkan, aku mulai berpikir, Ah, tidak mungkin kalau semuanya ini adalah rentetan dari “kebetulan2” saja, pasti ada suatu “Grand Plan” dari sesuatu Kekuatan Lain atau yang aku namakan Takdir tadi.

Waktu kita beli Rumah Jawa/Rumah Kudus dari Gereja Tayu Pati, kami juga tidak pernah berencana bahwa ada Gereja yang kebetulan Romo Parokinya kurang menyukai Arsitektur Jawa kuno dan butuh dana untuk membangun Ruangan Ibadah baru, “terpaksa” menjualnya dengan harga yang “terjangkau” oleh kami. Kami tidak punya tempat untuk membangun/meletakkan Rumah Kudus ini, namun “bonek” – bondo nekad – kami ambil keputusan untuk memilikinya. Sampai2 kami titipkan di Jepara karena kami tidak ada rencana, mau diapakan Rumah Kuno ini.

Waktu kita ditawari tanah di Cipaku Dream Hill, kami juga tidak punya rencana apa2, secara kebetulan saja ada tanah eks sitaan BPPN yang ditawarkan dan ternyata harganya terjangkau dan punya kelebihan, terletak diatas bukit dengan pemandangan indah dan menyeluruh ke kota Bandung. Namun kami tidak pernah punya rencana pindah ke Bandung, maklumlah anak/menantu dan cucu2 kami semuanya sudah berkumpul di Gudang Peluru. Mengapa kita harus tinggal di Bandung jauh dari mereka?

Kembali, peristiwa2 yang tidak ada hubungannya tersebut dan tidak pernah terencana, akhirnya membuat kita memutuskan untuk membangun Rumah Jawa/Kudus tersebut di tanah yang kami miliki di Cipaku, Bandung, walaupun tadinya hanya sekedar agar ada tempat sementara untuk meletakkan Bangunan Kuno tersebut. Namun ditengah perjalanan, ternyata kami menyukai sekali bangunan tersebut sehingga kita mulai berpikir untuk menghabiskan hari tua kami dirumah tersebut.

Begitu kami putuskan untuk menempati Rumah tersebut, rencana pemberkatannya dari rencana semula di bulan September 2008, akhirnya tidak pernah bisa terjadi, sampai dengan tiba2 figure Romo Tomo muncul kembali, karena Romo Tomo “kebetulan” akan memberkati Rumah di Bandung pada tanggal 22 Maret 2009, sehingga kami bisa nebeng Pemberkatan Rumah sehari sebelumnya. Mengapa tidak sebelumnya? Mungkin menunggu sampai Romo Tomo muncul.



Apakah ini suatu kebetulan juga? Rasanya tidak, karena tidak mungkin semua kebetulan2 ini bisa terjadi secara berurutan. Aku makin kuat berpikir, bahwa ada suatu Kekuatan yang telah membawa Romo Tomo dalam kehidupanku belakangan ini. Untuk maksud dan tujuan apa?? Hati dan pikiranku terus bergejolak.

Romo Tomo adalah identik dengan Gereja Ganjuran seperti tulisanku sebelumnya. Dan Ganjuran didedikasikan pada “Hati Kudus Tuhan Yesus – HKTY”. Padahal aku bukan merupakan Pengikut Romo Tomo, dan baru saja “diperkenalkan kembali”. Mengapa Romo Tomo secara tiba2 dimunculkan dalam kehidupanku?

Didalam Ritual Agama Katolik, dedikasi ataupun doa2 lebih banyak ditujukan kepada Bunda Yesus – Bunda Maria. Ayahku meneladaninya dengan memulai Pembangunan/Renovasi Gua Kerep semasa hidupnya dan berkeliling ke desa2 untuk mewartakan Penampakan Bunda Maria di Lourdes. Adikku melanjutkan jejak ayahku dengan membangun Gua Maria Lourdes di Rumah yang dulunya ditinggali Ayahku di Juwana. Aku sendiri pernah berkeliling selama 3 hari mengunjungi 9 Gua Maria untuk melakukan Doa Novena Kepada Bunda Maria.

Namun peristiwa2 diatas membuat aku makin yakin bahwa sekaranglah aku diingatkan kembali, sebagai pemeluk Agama Katolik, untuk juga mulai mengingat dan berdoa kepada Hati Kudus Tuhan Yesus/HKTY. Aku telah diberi petunjuk, melalui Romo Tomo, bahwa ada Kekuatan Lain yang telah mengatur jalan hidupku dan telah menunjukkan kembali tentang HKTY.

Aku jadi teringat, bahwa dari dulu aku mencoba berusaha untuk pergi ke Gereja dan menerima Komuni pada hari Jumat Pertama, yang menurut Ritual Agama Katolik didekikasikan kepada HKTY. Isteriku selalu berkomentar, “Kamu ini kalau Hari Minggu malas ke Gereja, tapi kalau Hari Jumat Pertama kok rajin. Apa2an sih”.

Dan walaupun selama ini, aku hanya menyelesaikan SATU KALI saja Novena (Novena = 9) HKTY ini, namun aku semakin kuat berpendapat bahwa Peristiwa2 yang kualami lewat Romo Tomo ini merupakan kesaksianku bahwa HKTY telah mengingatkan kembali kepadaku untuk lebih banyak berdoa.

Apakah interpretasi yang kutuliskan ini merupakan suatu kebenaran ?? Kalau tidak, menurut Anda, aku akan dibawa kemana? Apa scenario Grand Plan dari Takdir pertemuanku dengan Romo Tomo?? Ada yang punya pendapat lain?? Silahkan saja di email ke aku.
Aku benar2 yakin bahwa Manusia boleh Berencana, namun Tuhanlah yang akan menentukan.

Aku hanya bisa menutup tulisanku ini dengan seruan yang acapkali dilakukan oleh Pemeluk Agama Islam : ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR – TUHAN MAHA BESAR – TUHAN MAHA BESAR – TUHAN SUNGGUH MAHA BESAR.

Sekian dan Terima Kasih.


Jakarta, 30 April 2009
Thomas B Subijanto
Dalam Rangka Memperingati Lima Tahun Wafatnya Mami Helena Maria Juliasih Ludiro.

2 komentar:

Martin T Teiseran mengatakan...

Pak Thomas, salam kenal. Saya sedang menyelesaikan buku tentang Romo Utomo. Saya minta ijin untuk bisa mengutip beberapa bahan dari blok ini. Rencana mesti sudah jadi sebelum 2 Juli 2013, 50 tahun tahbisan imamatnya. Salam, blok saya

st-tarsisius.blogspot.com

Salam dan terima kasih

muridsejati mengatakan...

Allah bagi kita adalah Allah yg bisa diwujudkan dengan belas kasih dan murah hati. Bukan Allah yg tanpa konsep kehidupan, seperti yg digambarkan Islam, dengan menyebut yg maha besar.
Saya senang mendengar kisah anda, tapi begitu kecewa di bagian ahkir dengan mengutip Allahnya islam. Mengapa? Karena dalam islam tak ada kebenaran sedikitpun didalamnya.